PROTEIN DAN ASAM AMINO
HARI :
Senin
TANGGAL : 13
Oktober 2014
I. TUJUAN PERCOBAAN
·
Untuk melihat daya
larut berbagai asam amino dalam pelarut-pelarut yang berbeda
·
Untuk mengidentifikasi
asam amino
·
Untuk mengidentifikasi
asam amino yang mengandung gugus fenolik (tirosin).
II. DASAR TEORI
Asam
amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang
terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus –NH2 pada atom
karbon
dari
posisi gugus –COOH.
(Poedjiadi, 1994 ).
Pada umumnya asam amino larut dalam
air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton, dan
klorofil sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan
asam amina. Asam karboksilat aliafatik maupun aromatik yang terdiri atas
beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.
Demikian pula amina pada umumnya tidak larut dalam air tetapi larut dalam
pelarut organik.
( Mhd Zakir,2011 : 112 )
Kata
protein berasal dari protos atau proteos yang pertama atau utama. Protein
merupakan komponen penting atau komponen utama sel hewan atau manusia. oleh
karena sel itu merupakan pembentuk tubuh
kita, maka protein yang terdapat dalam makanan berfungsi sebagai zat utama
dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Protein adalah
molekul penyusun tubuh kita yang terbesar setelah air. Hal ini mengindikasikan
pentingnya protein dalam menopang seluruh proses kehidupan dalam tubuh. Dalam
kenyataannya, memang kode genetik yang tesimpan dalam rantaian DNA digunakan
untuk membuat protein, kapan, dimana dan seberapa banyak. Protein berfungsi sebagai penyimpan dan pengantar
seperti hemoglobin yang
memberikan warna merah pada sel darah merah kita, bertugas mengikat oksigen dan
membawanya ke bagian tubuh yang memerlukan.
Selain itu juga menjadi penyusun tubuh, "dari
ujung rambut sampai ujung kaki", misalnya keratin di rambut yang banyak
mengandung asam amino Cysteine sehingga menyebabkan bau yang khas bila rambut
terbakar karena banyaknya kandungan atom sulfur di dalamnya, sampai kepada
protein-protein penyusun otot kita seperti actin, myosin, titin, dsb. Kita
dapat membaca teks ini juga antara lain berkat protein yang bernama rhodopsin,
yaitu protein di dalam sel retina mata kita yang merubah photon cahaya menjadi
sinyal kimia untuk diteruskan ke otak. Masih banyak lagi fungsi protein seperti
hormon, antibodi dalam sistem kekebalan tubuh, dll.
( Sherrington,1992 : 87 )
Protein
mempunyai molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai
jutaan. Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan
menghasilkan asam-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam
molekul protein. asam-asam amino ini terikat satu dengan lain oleh ikatan
peptide. Protein mudah dipengatuhi oleh suhu tinggi, PH dan pelarut organik .
Protein bersifat amfoter, yaitu
dapat bereaksi dengan larutan asam maupun basa sebagian ada yang mudah larut
dan ada pula yang sukar larut. namun semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan
kloroform. apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolute, maka
protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi
molekul-molekul protein.
(Fassenden,1982 : 140 )
Pada umumnya, protein sangat peka
terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan kimia, sehingga mudah mengalami perubahan
bentuk perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein disebut
denaturasi. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya denaturasi adalah panas,
PH, tekanan, aliran listrik, dan adanya bahan kimia seperti urea, alkohol atau
sabun. Proses denaturasi kadang berlangsung secara reversible, tetapi adapula
yang irreversible, tergantung pada penyebabnya. protein yang mengalami
denaturasi akan menurunkan aktivitas biologinya dan berkurang kelarutannya,
sehingga mudah mengendap.
(
Montgomery,1993 : 96 )
Asam amino mempunyai beberapa
sifat, antara lain:
1. Larut dalam air dan pelarut polar lain.2. Tidak larut dalam pelarut nonpolar, seperti benzena dan dietil eter.
3. Mempunyai titik lebur lebih besar dibanding senyawa karboksilat dan amina.
4. Mempunyai momen dipol besar.
5. Bersifat elektrolit:
a. kurang basa dibanding amina
b. kurang asam dibanding karboksilat
6. Bersifat amfoter
Karena mempunyai gugus asam dan gugus basa. Jika asam amino
direaksikan dengan asam maka asam amino akan menjadi suatu anion, dan sebaliknya
jika direaksikan dengan basa maka akan menjadi kation.
7. Dalam larutan dapat membentuk ion zwitter
Karena asam amino memiliki gugus karboksil (–COOH) yang bersifat
asam dan gugus amino (–NH2) yang bersifat basa, maka asam amino dapat mengalami
reaksi asam-basa intramolekul membentuk suatu ion dipolar yang disebut ion
zwitter.
8. Mempunyai kurva titrasi yang khas.
9. Mempunyai pH isoelektrik, yaitu pH pada saat asam
amino tidak bermuatan. Di bawah titik isoelektriknya, asam amino bermuatan
positif dan sebaliknya di atasnya bermuatan negatif.
( Elsa Julianty,2011 : 60 )
Asam amino diperlukan oleh makhluk
hidup sabagai penyusun protein atau sebagai kerangka-kerangka molekul penting.
Ia desebut esensial bagi suatu spesies organisme apabila spesies tersebut
memerlukannya tetapi tidak dapat memproduksinya sendiri atau selalu kekurangan
asam amino yang bersangkutan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, spesies itu harus
memasukkannya dari luar (lewat makanan). Istilah “asam amino esensial” berlaku
hanya bagi organisme heretrof. Oleh karena kebebasan gugus amin lebih besar
dari pada karboksil, maka kedua gugus amin dan karboksil di dalam asam amino
akan saling bereaksi menghasilkan ion zwitter.
( Damin
Sumardjo,2006 : 79 )
III. Prosedur Kerja
3.1
Alat dan Bahan
a.
Bahan
·
HCl 0,1 N , NaOH 0,1
N, Etanol, kloroform, air, (masing-masing 1 mL)
·
Asam-asam amino (
Arginin, lisin, glutamin, tyrosin )
·
Ninhirin ( 2 g/L ), Hg
(10 g), HNO3 (20 ml), pereaksi Millon.
b.
Alat
·
Tabung reaksi
·
Gelas beker
·
Batang pengaduk
·
Pipet tetes
·
Gelas ukur
·
Erlenmeyer
·
Penangas air
·
Penjepit tabung
3.2 Cara Kerja
a.
Kelarutan Asam
Amino
Kelarutan Asam
Amino
tersebut
b.
Uji Ninhidrin
c.
Uji Millon
![]() |
IV. HASIL
a.
Kelarutan Asam Amino
|
|
HCl
|
NaOH
|
Etanol
|
Kloroform
|
Air
|
|
Arginin
Lisin
Glutamin
Tyrosin
|
Tak larut
Larut
Tak larut
Larut
|
Tak larut
Larut
Tak larut
Larut
|
Tak larut
Tak larut
Tak larut
Larut
|
Tak larut
Tak larut
Tak larut
Tak larut
|
Larut
Larut
Tak larut
Larut
|
b.
Uji Ninhidrin
|
Pereaksi
|
Arginin
|
Lisin
|
Glutamin
|
Tyrosin
|
|
Ninhidrin
|
Bening
|
Kuning
|
Biru
|
Biru
|
c.
Uji Millon
|
Pereaksi
|
Arginin
|
Lisin
|
Glutamin
|
Tyrosin
|
|
Reagen Millon
|
Bening
|
bening
|
bening
|
Merah hati
|
V. PEMBAHASAN
a. Kelarutan Asam Amino
Asam amino adalah penyusun
protein, yaitu asam organik yang mengandung gugus amino ( -NH2 )
disamping gugus karboksilat ( -COOH ). Asam amino yang terdapat dialam selalu berupa
asam amino alfa, artinya gugus -NH2 selalu terikat pada atom C-alfa,
yaitu atom C didekat gugus –COOH. Asam amino yang dikenal banyak sekali tetapi
hanya 20 jenis yang termasuk penyusun protein alami.
Menurut Trimartini (2008), asam
amino mempunyai gugus –R polar tidak bermuatan. Gugus –R asam amino lebih larut
dalam air atau lebih hidroponik, dibandingkan dengan asam amino non polar.
Karena golongan ini mengandung gugus fungsional yang membentuk hidrogen dengan
air.
Dalam percobaan ini praktikan
melakukan uji kelarutan asam-asam amino yaitu Arginin, Lisin, Glutamin, Tyrosin
dengan pelarut Air, Kloroform, Etanol, HCl, dan NaOH. Setelah dilakukan
pengujian pada air dan kloroform tidak ada asam amino yang larut.Menurut
Wirahadikusuma (1989), yang menyatakan bahwa semua protein tidak larut dalam
pelarut lemak. Jadi hal ini sesuai teori. Sedangkan pada air semua aam amino
dapat larut dalam air, karena asam amino mengandung gugus –R yang lebih larut
dalam air atau hidroponik. Asam amino ini mengandung gugus fungsional yang
mengandung hidrogen dan air dan bersifat polar. Selanjutnya pada pelarut HCl
dan NaOH yang larut hanya Lisin dan Tyrosin, Arginin dan Glutamin tidak larut.
Berdasarkan teori, asam amino bersifat asam karena mengandung gugus karboksil
dan juga bersifat basa karena mengandung gugus amina. Dalam bentuk larutan,
asam amino bersifat amfatik yaitu cenderung menjadi asam pada larutan basa dan
menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu
menjadi zwitter ion.
Kelarutan protein didalam suatu
cairan sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pH,
suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam
amino bebas memiliki titik iso elektrik adalah daerah dengan pH tertentu dimana
protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan
negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik.
Pada pH isolistrik, suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu
muatan listriknya nol.
b. Uji Ninhidrin
Menurut Shrerrington (1992), uji
ninhidrin adalah uji umum untuk protein dan asam amino menjadi suatu aldhida.
Ninhidrin dilakukan dengan menambahkan beberapa tetes larutan ninhidrin yang
tidak terlihat warnanya kedalam sampel, kemudian dipanaskan beberapa menit.
Pemanasan dengan ninhidrin menfhasilkan
warna biru-ungu pada semua asam amino yang memiliki gugus L amino bebas,
Seangkan produk yang dihasilkan oleh prolin dan hiroksiprolin berwarna kuning.
Dari hasil pengamatan diperoleh
bahwa glutamin dan tyrosin berubah warna warna menjadi biru, arginin bening,
sedangkan lisin berubah menjadi kuning. Perubahan warna biru tersebut
menunjukkan bahwa reaksi positif, berarti arginin dan tyrosin adalah asam amino
yang mengandung gugus amino bebas. Sedangkan lisin berarti adalah asam amino
produk dari prolin dan hidroksiprolin. Namun, pada arginin diteteskan pereaksi
ninhidrin dan dipanaskan akan berubah
warna menjadi biru-ungu. Ketidaksesuaian ini mungkin dikarenakan pemanasannya
yang terlalu sebentar atau kurang sterilnya alat-alat yang digunakan sehingga
larutan terkontaminasi oleh zat lain.
c. Uji Millon
Uji Millon umumnya digunakan untuk
menunjukkan asam amino tyrosin pada suatu zat uji. Prinsip dari uji Millon
adalah pembentukan garam merkuri yang ternitrasi dan menujukkan reaksi positif
yang ditandai dengan peubahan warna merah.
Dari hasil pengamatan ternyata
memang hanya tirosin yang yang mengalami perubahan warna yairtu merah yang
menunjukkna reaksi positif. Sedangkan pada arginin,lisin,dan glitamin tidak
bereaksi larutan tetap bening. Hal ini sesui dengan teori karena dari asam-asam
amino yang diuji memang hanya tyrosin yang mengandung gugus fenolik.
VI. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Semua protein tidak
larut dalam pelarut lemak,tetapi larut dalam air.Asam amino bersifat asam pada larutan basa dan bersifat
basa dalam larutan asam.
2.
Uji ninhidrin adalah
uji umum untuk protein. Uji dikatakan positif jika larutan berubah warna
menjadi biru-ungu jika mengandung gugus L amino bebas, sedangkan produk yang
dihasilkan oleh prolin dan hidroksiprolin akan berwarna kuning.
3.
Uji millon adalah uji
yang digunakan untuk meunjukkan adanya asam amino dengan gugus fenolik yang
ditandai dengan perubahan warna merah ketika di uji dengan pereaksi Millon.
Tyrosin adalah asam amino yang mengandung gugus fenolik.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Dzakir,
Mhd.2011.Dasar-Dasar biokimia.Jakarta : UI PRESS
Fassenden.1992.Kimia
Organik II Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga
Julianti,Elsa.2011.Asam
Amino, Peptida, dan Protein. Bandung : Bumi Aksara
Montgumery.1993.
Biokimia Jilid I. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Martini,
Tri.2008. Metabolisme Protein dan Asam Amino. Jakarta : Erlangga
Sherrington,Danin.
2006. Protein dan Asam Amino. Jakarta : ECG
Wirahadikusumah.1989.
Biokimia Enzim dan Protein. Bandung : ITB


Bagaimana dengan hasil pelarut etanol?
BalasHapus