LIPIDA



Hari                 : Senin
Tanggal           : 6 Oktober 2014

       I.            Tujuan Percobaan

a.       Untuk melihat daya kelarutan lipida dan asam-asam lemak dalam berbagai pelarut.
b.      Untuk mengamati keadaan emulsi dari lemak dan zat yang bertindak sebagai emulgator.

    II.            Dasar Teori

                          2.1            Definisi Lipid
Lipid mengacu pada golongan senywa hidrokarbon alifatik non polar da hidrofobik. Karena non polar, lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi larut dalam pelarut non polar seperti alkohol, eter ataupun kloroform. Fungsi biologis lipid untuk menyimpan energi, sebagai komponen struktural membran sel dan sebagai senyawa pensinyalan molekul.
Lipid adalah senyawa organik yang dieroleh dari proses dehidrogenasi endotermal rangkaian hidrokarbon. Lipid bersifat amfifilik, artinya lipid mampu membentuk struktur seperti vesikel, liposom, atau membran lain dalam lingkungan basah. Lipid berasal dari dua jenis sub satuan atau blok bangunan yang terdiri dari gugus ketoasil dan gugus isoprena.
(Lehninger, A.L. 1997)



                          2.2            Struktur Kimia Lipid
Unsur penyusun lemak antara lain adalah karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), kadang juga terdiri dari fosforus (P) serta nitrogen (N). Molekul lemak terdiri dari empat bagian, yaitu satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak. Asam lemak terdiri dari rantai hidrokarbon (H) dan gugus karboksil (-COOH). Molekul gliserol memiliki tiga gugus hidroksil (-OH) dan tiap gugus hidroksil berinteraksi dengan gugus karboksil asam lemak.
(Rusidiana, 2011)

                          2.3            Sifat Umum Lipida
Lipida mempunyai sifat umum sebagai berikut :
       a.            Tidak dapat larut dalam air.
      b.            Larut dalam pelarut organik seperti benzen, eter, aseton, kloroform dan karbontetraklorida.
       c.            Mengandung unsur karbon, hidrogen, oksigen, kadang juga mengandung nitrogen dan fosfor.
      d.            Bila dihidrolisis akan menghasilkan lemak.
       e.            Berperan pada metabolisme tumbuhan dan hewan.
(Budimarwanti, C.2006)

                          2.4            Pembagian Lipida
Berdasarkan ikatan kimianya, asam lemak dibedakan menjadi 2, yaitu :
       a.            Asam Lemak Jenuh
Bersifat non esensial karena dapat disintesis oleh tubuh dan pada umumnya berwujud padat pada suhu kamar. Asam lemak jenuh berasal dari lemak hewani, misalnya mentega. Asam lemak ini tidak memiliki ikatan rangkap.

      b.            Asam Lemak Tidak Jenuh
Bersifat esensial, karena tidak dapat disintesis oleh tubuh dan ummnya berwujud cair pada suhu kamar. Asam lemak tidak jenuh berasal dari lemak nabati, misalnya minyak goreng.
Pembagian lipid berdasarkan hasil hidrolisis dan persamaan strukturnya digolongkan sebagai berikut :
a.       Lipid Sederhana
Kelompok ini dikenal sebagai homopolid yaitu ester yang mengandung unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Jika dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak dan etanol, penggolongannnya meliputi :
1)      Lemak, ester lemak dan gliserol.
2)      Lilin, yaitu ester asam lemak dengan alkohol monohidrat berberat molekul tinggi.

b.       Lipid Majemuk/Kompleks
Kelompok ini berupa ester asam lemak dengan rantai alkohol yang mengikat gugus lain seperti :
1)      Fosfolipid, lipid yang mengandung residu asam fosfat.
2)      Glikolipid, lipid yang mengandung karbohidrat.
3)      Lipoprotein, lipid yang mengandung protein.

c.       Derivat Lipid
Kelompok ini mecakup zat yang berasal dari lipid sederhana dan senyawa hidrolisis. Yang termasuk derivat lipid adalah asam lemak, alkaloid, monogliserida dan digliserida, steroid, terpen, karotenoid dan lain-lain.
(Stryer, L. 2000)

                          2.5            Fungsi Lipida
Banyaknya lemak yang dibutuhkan oleh tubuh manusia berbeda-beda, tetapi umunya berkisar antara 0,5-1 g lemak per 1 kg berat badan per hari. Didalam tubuh, lemak mempunyai fungsi penting, diantaranya :
a.   Sebagai pelindung tubuh dari suhu rendah.
b.   Sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K.
c.   Sebagai pelindung alat tubuh vital (jantung dan lambung), yaitu sebagai bantalan lemak.
d.   Sebagai penghasil energi tertinggi
e.   Penahan rasa lapar, karena adanya lemak akan memperlambat pencernaan.
f.    Sebagai salah satu bahan penyusun membran sel.
g.   Sebagai salah satu bahan penyusun hormon dan vitamin.
h.   Sebagai salah satu bahan penyusun empedu, asam kholat dan hormon-hormon dalam tubuh.
(Ngili, Yohanis. 2009)

                          2.6            Proses Pencernaan Lipida
Pencernaan lemak terjadi di dalam usus dengan bantuan enzim lipase. Lemak keluar dari lambung masuk ke dalam usus sehingga merangsang hormon kolesistokinin. Hormon ini menyebabkan kantung empedu berkontraksi dan mengeluarkan cairan empedu ke dalam duodenum. Empedu mengandung garam empedu yang dapat mengemulsikan lemak. Emulsi lemak merupakan pemecahan lemak yang berukuran besar menjadi butiran lemak yang lebih kecil. Lemak yang lebih kecil (trigliserida) yang teremulsi memudahkan hidrolisis oleh lipase yang dihasilkan pankreas. Lipase pangkreas akan menghidrolisis lemak teremulsi menjadi campuran asam lemak dan monogliserida. Penyelesaian cairan pangkreas dirancang oleh hormon sekretin yang berperan untuk meningkatkan jumlah elektrolit dari cairan pangkreas serta pankreoenzim yang berperan untuk merangsang pengeluaran enzim-enzim dalam cairan pangkreas.
(Girindra, A. 1986)



 III.            Prosedur Percobaan

3.1     Alat dan Bahan
a.         Alat :
·         Tabung reaksi
·         Kertas saring
·         Pipet tetes
·         Gelas ukur
·         Rak tabung reaksi

b.        Bahan :
·         Asam-asam lemak (butirat, stearat dan asam oleat)
·         Lemak dan minyak (butter, margarin, olive)
·         Fosfolipida
·         Kolesterol
·         Pelarut (aseton, alkohol dan eter)
·         Minyak parafin
·         Minyak kelapa
·         HCl encer
·         Soda








3.2     Skema Kerja
a)      Daya Kelarutan Lipida


 



 dimasukkan dalam tabung reaksi
 (+) 1 atau 2 tetes minyak kelapa
 dikocok






Rounded Rectangle: HASIL


 





 dicampurkan pada air dan pelarut
 dicatat perbedaan gugus utam lipida
 (+) 1 tetes larutan lipida pada kertas saring
 dibiarkan kering
 diamati pembentukan noda lemak jernih






Rounded Rectangle: HASIL


 





 dimasukkan dalam tabung reaksi
 (+) 1 mL air
 (+) sampel lipida
 dilarutkan dalam 10 mL aseton, etanol dan eter


Rounded Rectangle: HASIL
 




b)      Emulsi dari Lemak


 


 dimasukkan dalam 4 tabung reaksi
 (+) 1 tetes minyak parafin + 1 tetes HCl encer pada
tabung reaksi 1
 (+) 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes HCl encer pada
tabung reaksi 2
 (+) 1 tetes minyak parafin + 1 tetes soda pada tabung
reaksi 3
 (+) 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes soda pada tabung
reaksi 4
 diamati emulsi yang terjadi


Rounded Rectangle: HASIL
 

 




 IV.            Hasil

4.1     Daya Kelarutan Lipida
c.             Pembentukan Noda Lemak Jernih

Aseton
Alkohol
Eter
Air
Butirat
Tidak ada noda
Tidak ada noda
Tidak ada noda
Tidak ada noda
Stearat
Tidak ada noda
Ada noda
Tidak ada noda
Tidak ada noda
Asam Oleat
Tidak ada noda
Ada noda
Ada noda
Ada noda
Margarin
Tidak ada noda
Tidak ada noda
Ada noda
Tidak ada noda
Olive
Ada noda
Ada noda
Ada noda
Ada noda


d.            Kelarutan Lipida
Perlakuan
Hasil Pengamatan
0,5 mL air + margarin + 5 mL aseton
Margarin terapung/terangkat ke bagian atas larutan (tidak terlarut)
0,5 mL air + margarin + 5 mL alkohol
Margarin mengendap di bagian bawah larutan (tidak terlarut)
0,5 mL air + margarin + 5 mL eter
Margarin, eter dan air terlarut menjadi satu, larutan berwarna kuning pekat.

4.2     Emulsi dari Lemak
Perlakuan
Hasil Pengamatan
5 mL air + 1 tetes minyak parafin + 1 tetes HCl encer
Emulsi yang terjadi membentuk larutan jernih
5 mL air + 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes HCl encer
Emulsi yang terjadi membentuk larutan keruh
5 mL air + 1 tetes minyak parafin + 1 tetes soda
Emulsi yang terjadi membentuk larutan jernih
5 mL air + 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes soda
Emulsi yang terjadi membentuk larutan keruh


    V.            Pembahasan

5.1     Daya Kelarutan Lipida
Lipid merupakan golongan senyawa hidrokarbon alifatik non polar dari hidrofobik karena bersifat non polar, lipid ridak dapat larut dalam pelarut polar seperti air, namun dapat larut dalam pelarut non polar seperti alkohol, eter, kloroform dan benzena.
a.         Pembentukan Noda Lemak jernih
Pada uji pembentukan noda lemak jernih, larutan lipida yang digunakan adalah margarin dan olive oil, untuk asam-asam lemak yang digunakan adalah (butirat, stearat dan asam oleat), sedangkan untuk pelarutnya adalah aseton, alkohol, eter dan air.
Pada pelarut aseton, larutan lipida dan asam-asam lemak, yang membentuk noda lemak jernih pada kertas saring hanyalah pada larutan olive oil. Pada pelarut alkohol, yang membentuk noda lemak jernih adalah stearat, asam oleat dan olive oil. Pada pelarut eter, yang membentuk noda lemak jernih adalah asam oleat, margarin dan olive oil. Pada pelarut air, ternyata pada beberapa larutan lemak juga menimbulkan noda lemak jernih yaitu pada larutan asam oleat dan olive oil.
Jika kita lihat hasil pengamatan diatas, hasilnya cenderung tidak stabil. Pada pelarut aseton, alkohol dan eter seharusnya larutan lipida dan asam-asam lemak dapat membentuk noda lemak jernih. Namun pada praktikum yang dilakukan, hanya sedikit yang menimbulkan noda lemak jernih pada kertas saring. Sedangkan pada pelarut air yang seharusnya tidak menimbulkan noda lemak jernih pada larutan lipida dan asam lemak. Namun ternyata pada asam oleat dan olive oil tetap terdapat noda lemak jernih pada kertas saring.
Perbedaan hasil praktikum dengan literatur ini mungkin disebabkan pada saat praktikum, jumlah zat yang digunakan sangat sedikit sekali yaitu hanya 1 tetes, sehingga hasil yang didapar kurang akurat. Hal ini juga bisa saja disebabkan oleh alat-alat praktikum yang digunakan praktikan kurang setril sehingga menimbulkan hasil yang berbeda dari pada yang seharusnya.
b.         Kelarutan Lipida
Pada uji kelarutan lipida ini, lemak yang digunakan adalah margarin yang dicampurkan dengan air dan pelarut aseton, alkohol dan eter. Pada tabung I yang berisi campuran 0,5 mL air, margarin dan 5 mL aseton, setelah dihomogenkan margarin terapung atau terangkat ke bagian atas larutan, hal ini menandakan bahwa lipida tidak dapat terlarut, dengan warna larutan menjadi keruh. Pada tabung II yang berisi campuran 0,5 mL air, margarin dan 5 mL alkohol, setelah dihomogenkan margarin mengendap di bagian bawah larutan dengan warna larutan bening. Sedangkan pada tabung ke III yang berisi campuran 0,5 mL air, margarin dan 5 mL eter, larutan homogen sepenuhnya dengan warna larutan kuning pekat.
Ketidak larutan asam-asam lemak pada pelarut aseton dan alkohol mungkin dikarenakan adanya campuran air yang terkandung dalam larutan tersebut, sehingga menghambat asam-asam lemak tersebut untuk dapat melarut dalam pelarut aseton dan alkohol.

5.2     Emulsi dari Lemak
Emulsi adalah dispersi atau suspensi menstabilkan suatu cairan lain yang keduanya tidak saling melarutkan. Agar terbentuk emulsi yang stabil diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulgator yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase cairan. Cara kerjanya disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapar terikat baik pada minyak maupun air. Emulgator akan membentuk lapisan disekeliling minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan, sehingga mengurangi kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama lain.
(Stryer, L. 2000)
Pada tabung I yang berisi campuran 5 mL air, 1 tetes minyak parafin dan 1 tetes HCl encer, tidak terbentuk emulsi dengan warna larutan bening. Pada tabung II yang berisi campuran 5 mL air, 1 tetes minyak kelapa dan 1 tetes HCl encer, terjadi emulsi dengan warna larutan keruh dan timbul gelembung-gelembung. Pada tabung III yang berisi 5 mL air, 1 tetes minyak parafin dan 1 tetes soda tidak terjadi emulsi dengan warna larutan bening. Pada tabung IV yang berisi 5 mL air, 1 tetes minyak kelapa dan 1 tetes soda terjadi emulsi dengan warna larutan berubah menjadi keruh dan timbul gelembung-gelembung.



 VI.            Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Lipid merupakan golongan senyawa hidrokarbon alifatik non polar dan hidrofobik, karena itu lipid tidak dapat larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi dapat larut dalam pelarut non polar seperti alkohol, eter ataupun kloroform.
2.      Zat emulgator berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara dua fase cairan. Emulgator akan membentuk lapisan disekeliling minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan.



VII.            DAFTAR PUSTAKA

A. L. Lehninger., e. a. (1997). Principles of Biochemistry. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Budimarwanti, C. (2006). Analisis Lipida Sederhana dan Lipida Kompleks. http://www.staff.UNY.ac.id. Diakses pada 4 Oktober 2014, pukul 10:25 .
Girindia, A. (1986). Biokimia I. Jakarta: Gramedia.
Ngili, Y. (2009). Biokimia : Struktur dan Fungsi Biomolekul. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rusdiana. (2011). Metabolisme Asam Lemak. http://www.USU.digital_library.ac.id. Diakses pada 4 Oktober 2014, Pukul 11:17.
Stryer, L. (2000). Biokimia Vol. 1 Edisi 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reaksi dies-alder

CARA MUDAH MENGHAFAL NILAI SIN,COS,TAN SUDUT-SUDUT ISTIMEWA

Laporan Pratikum Kimia Organik - SENYAWA KARBONIL