Karbohidrat
I. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan
ini adalah sebagai berikut:
1.
Menguji adanya karbohidrat dari beberapa bahan yang diuji
2.
Menentukan jenis dari karbohidrat
3.
Memeriksa adanya gugus keton pada gula (fruktosa) dan aldose
(glukosa)
4.
Memeriksa larutan yang mengandung glukosa 1%, maltose 1% dan
fruktosa 1% pada uji benedict
II. Dasar Teori
Karbohidrat merupakan
senyawa karbon yang mengandung hidrogen dan oksigen yang secara empiric
mempunyai rumus Cx(H2O)y. Karbohidrat adalah
polihidroksi dari aldehid dan keton.
(Besari,
2000)
Salah satu perbedaan utama
antara berbagai tipe-tipe karbohidrat ialah ukurannya. Monosakarida adalah satuan
karbohidrat yang sederhana, mereka tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul
karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida dapapt diikat bersama-sama membentuk
molekul dimer, krimmer dan lain sebagainya yang kemudian akan menjadi polimer.
Sedangkan molekul yang mengandung aldehid disebut aldose. Gukosa, galaktosa,
ribose dan deoksiribosa semuaya tergolong sebagai aldose. Monosakarida dengan
gugus keton didalamnya disebut ketosa. Karbohidrat yang tersusun dari dua atau
delapan satuan monosakarida dirujuk sebagai oligosakarida.
(Fessenden, 1990)
Karbohidrat
dikelompokkan menjadi empat kelompok penting yaitu monosakarida, disakarida,
oligosakaarida dan polisakarida. Monosakarida merupakan karbohidrat yang tidak
dapat terhidrolisis dan tidak kehilangan sifat gulanya contohnya ribose dan
glukosa. Disakarida merupakan
karbohidrat yang dapat terhidrolisis menghasilkan 2 monosakarida yang berbeda.
Contohnya adalah sukrosa yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan glukosa
dan fruktosa. Polisakarida yang merupakan polimer monosakarida yang memiliki
bobot molekul yang tinggi, dan bila terhidrolisis akan menghasilkan lebih dari
sepuluh monosakarida diantaranya amilum, glikogen dan selulosa.
(Poedjiadi, Anna: 1994)
Dalam tubuh manusia,
karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian dari gliserol
lemak. Tapi sebagian besar dari karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang
dimakan sehari-hari, terutama bahan yang berasal adri tumbuh-tumbuhan.
Karbohidrat juga mempunyai perana penting dalam menentukan karakteristik bahan
makanan misalnya rasa, warna, tekstur dan lain sebagainya. Sedangkan dalam
tubuh karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahna protein
yang berrlebihan, kehilangan mineral dan berguna untuk membantu metabolism
lemak dan protein.
(Winarno,
F.G, 1991)
Banyak tes yang
digunakan untuk mengetahui karakteristik karbohidrat. Uji Molish adalah
pengujian yang paling umum untuk semua karbohidrat. Hal ini didasarkan pada
kemampuan karbohidrat dalam mengalami dehidrasi asam katalis untuk menghasilkan
furfural atau 5 hidroksi metil furfural. Uji seliwanof adalah uji yang
digunakan untuk membedakan ketosa (enam karbon gula yang mengandung keton pada
ujung sisinya) dan aldose (enam karbon yang mengandung aldehid pada ujungnya).
Keton menghidrasi dengan cepat menghasilkan 5 hidroksi metil furfural,
sedangkan untuk aldose lebih lama. Sekali 5 hidroksi metil furfural dihasilkan
akan bereaksi dengan resosinol dan menghasilkan warna merah. Uji benedict
digunakan untuk menentukan monosakarida dan disakarida yang mengandung gugus
aldehid yang dapat dioksidasi asam karboksil. Gula akan mereduksi ion kupri
pada larutan benedict.uji benedict digunakan untuk memisahkan antara
monosakarida dan disakarida yang dapat mereduksi ion kupri. Reagen barfoed
bereaksi dengan monosakarida untuk meghasilkan kupri oksida yang lebih cepat
dibandingkan dengan disakarida.
(Eaton,
1980)
Keberadaan
karbohidrat dapat dilihat dengan uji molish atau uji bahan gula bebas, alcohol,
nafthol, dan H2SO4. Pada uji benedict ion cupri (Cu2+)
direduksi menjadi Cu2O dalam larutan alkalin sitrat. Sitrat menahan
kestabilan Cu2+ selama reaksi dengan menjaga dari penguraian menjadi
hitam, larutan CuO. Dalam uji bbarfoed Cu2+ tereduksi menjadi CuO
pada larutan asam lemah. Secara praktek dapat dilihat bahwa monosakarida
mengurangi lebih cepat pada asam lemah dibandingkan disakarida. Uji seliwanof
reaksi spesifik warna untuk ketosa. Pada larutan HCl, ketosa mengalami menjadi
furural lebih cepat dibandingkan dengan aldose. Lebih lanjut furfural akan
bereaksi dengan resorsinol yang menghasilkan warna dan resorsinol menyediakan
bukti bahwa aldose dan ketosa murni terdapat pada gula.
(Clark,
1964)
III. Prosedur Percobaan
3.1
Alat dan bahan
a.
Alat
·
Tabung reaksi
·
Pipet tetes
·
Penangas air
·
Kertas Saring
b.
Bahan
·
Iodida
·
Fruktosa
·
Maltose
·
Amilum
·
Gula
·
Madu
·
H2SO4
·
Reagen Molish
·
Pereaksi Seliwanof
·
Glukosa
·
Reagen Benedict
·
Aquades
3.2
Skema Kerja
a.
Uji iod
b. Uji Molisch
c. seliwanoft
d. benedict
IV. Hasil
a.
Uji Iodida
|
No
|
Sampel yang
Diuji
|
Perlakuan
|
||
|
HCl + iod
|
NaOH + iod
|
Air + iod
|
||
|
1
|
Fruktosa 10%
|
Kuning
|
Kuning
|
Kuning
|
|
2
|
Maltose 10%
|
Kuning
|
Kuning muda
|
Kuning
|
|
3
|
Amilum 10%
|
Biru kehitaman
|
Bening
|
Biru kehitaman
|
|
4
|
Larutan Gula
|
Kuning
|
Bening
|
Bening
|
|
5
|
Larutan Madu
|
Kuning
|
Bening
|
Kuning
|
|
6
|
Aquades
|
Kuning
|
Bening
|
Kuning pucat
|
b.
Uji Molish
|
No
|
Sampel yang
diuji
|
Perlakuan
|
|
|
Reagen molish
|
H2SO4
|
||
|
1
|
Sari jeruk
|
Hijau tua
|
Coklat
|
|
2
|
Sari tebu
|
Putih keruh
|
Coklat
|
|
3
|
Sari ubi kayu
|
Putih keruh
|
Ungu
|
|
4
|
Air cucian beras
|
Putih keruh
|
Ungu muda
|
|
5
|
akuades
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
c.
Uji Seliwanof
|
No
|
Sampel yang
diuji
|
Perlakuan
|
|
|
2 tetes
Seliwanof
|
|
|
1
|
Fruktosa
|
Tidak ada perubahan
|
|
2
|
gukosa
|
Tidak ada perubahan
|
d.
Uji Benedict
|
No
|
Sampel yang
diuji
|
Perlakuan
|
|
Reagen Benedict
|
||
|
1
|
Glukosa 1%
|
Kecoklatan (+)
|
|
2
|
Maltose 1%
|
Jingga (+)
|
|
3
|
Fruktosa 1%
|
Jingga (+)
|
e.
Hirolisis
Selulosa
|
No
|
Perlakuan
|
Uji Benedict
|
Tetesan
|
|
1
|
Larutan kertas saring
|
Warna Biru (+)
|
Ke 10
|
V. Pembahasan
a.
Uji iod
Uji iod dengan prinsip bahwa
iod jika direaksikan dengan pati (amilosa) akan dapat membentuk ikatan kompleks
yang berwarna biru. Reaksi pada uji iod dengan menggunkan sampel yang
diantaranya yaitu fruktosa 10%, amilum 10%, maltose 10%, larutan gula, larutan
madu dan akuades. Dengan berbagai perlakuan yang pertama diuji dengan HCl dan
iod, yang kedua dijuji dengan NaOH dan iod dan perlakuan yang terakhir yaitu
diuji dengan akuades dan iod.
Pada sampel yang pertama
yaitu fruktosa 10% diuji dengan HCl dan iod menghasilkan warna kuning, diuji
dengan NaOH dan iod akan menghasilkan warna kuning dan untuk air dan iod juga
akan menghasilkan warna kuning. Selanjutnya untuk sampel yang kedua yaitu
maltose 10%, larutan gula dan larutan madu juga memberikan warna yang sama
yaitu kuning saat diuji dengan HCl dan iod, NaOH dan iod, serta air dan iod.
Dari hasil uji ini bisa dilihat bahwa sampel memberikan hasil yang
negative.pada prinsipnya seharusnya jika tergolong pati akan memberikan warna
biru pada larutan. Sedangkan jika itu golongan glikogen dan pati terhidrolisis
sebagian akan menghasilkan kompleks yang berwarna merah- coklat.
Hasil yang berbeda yang
didapat dari pengujian iod pada amilum 10% memberikan hasil yang positif pada
uji karbohidrat dengan HCl + iod yang memberikan warna biru. Hal yang sama juga
ditunjukkan oleh air dan iod yang juga menghasilkan warna biru. Hal ini
disebabkan pada pati terdapt unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks
karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk
inilah yang menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium
yang dapat masuk kespiralnya sehingga
menyebabkan terbentuknya warna biru tua pada larutan kompleks tersebut.
b.
Uji Molish
Uji molish adalah uji yang
digunakan untuk membuktikan adanya karbohidrat. Berdasarkan prinsipnya semua
larutan karbohidrat jika direaksikan dengan pereaksi molish akan membentuk
kompleks cincin yang berwarna ungu. Pada percobaan ini bahan yang diuji adalah
air cucian beras, sari jeruk, sari ubi kayu, sari tebu dan akuades. Untuk bahan
sari jeruk,sari tebu, air cucian beras dan akuades memberikan hasil yang
negative terhadap uji molish ini. Hal ini terjadi dan bisa disebabkan karena
kemungkinan tabung reaksi yang digunakan tidak dalam kondisi yang steril atau
bersih. Dan factor lainnya adalah kemungkinan pipet tetes yang digunakan juga
terkontaminasi zat lainnya.
Sedangkan untuk sari ubi
kayu memberikan hasil yang positif yang ditandai dengan terbentuknya cincin
ungu setelah ditambahkn H2SO4. Dari hasil ini bisa
dilihat pada larutan uji menunjukan adanya kabohidrat. Larutan uji ini setelah
ditambah dengan reagen molish, kemudian dialirkan dengan H2SO4
pekat dengan cara diteteskan pada bgain pinggir tabung reaksi. Hal ini
dilakukan agar larutan H2SO4 tidak bercampur secara
lansung dengan larutan uji yang ada di dalam tabung reaksi. Sehingga reaksi
dapat terjadi perlahan, dapat diamati dan juga berlansung dalam waktu yang
dapat diamati perubahan yang terjadi.
Sehingga pada akhir reaksi
didapatkan hasil yaitu adanya pembentukan cincin ungu pada batas antara kedua
lapisa tersebut dalam tabung reaksi. Terbentuknya kompleks yang berwarna ungu
ini disebabkan karena pengaruh dehidrasi monosakarida (furfural) dengan
naftol yang ada pada pereaksi molish.
Sedangkan H2SO4 disini berperan sebagai katalis sehingga
reaksi dapat berjalan lebih cepat.
c.
Uji seliwanof
Uji seliwanof adalah
pengujian yang dilakukan pada golongan aldehid (aldose) dan keton (ketosa) yang
ada pada karbohidrat. Bahan yang diuji pada percobaan ini adalah fruktosa dan
glukosa. Sukrosa adalah karbohidrat yang mengandung gugus aldehid pada salah
satu atom karbonnya. Sedangkan fruktosa adalah karbohidrat yang mengandung
gugus keton (ketosa). Dari hasil percobaan ini didapatkan hasil yaitu untuk
fruktosa dan sukrosa memberikan hasil negative yaitu tidak ada perubahan
apa-apa pada larutan uji jika dibandingkan dengan hasil yang didapat
berdasarkan literature.
Berdasarkan literature
apabila tergolong karbohidrat yang mengandung keton akan mengalami dehidrasi
untuk menghasilkan 4 hidroksi metil furfural yang kemudian mengalami kondensasi
dengan resorsinol yang kemudian menghasilkan kompleks yang berwarna merah
orange atau uji yang spesifik dalam mengidentifikasi gula ketosa. Menurut
Herper et all (1999) fruktosa dapat bereaksi dengan pereaksi Seliwanof
menghasilkan komplek yang berwarna merah ceri. Dari hasilyang didapat tetap
berwarna kuning. Hal ini terjadi karena pereaksi seliwanof yang digunakan sudah
lama, selain itu factor kebesihan alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan
ini juga berpengaruh.
d.
Uji Benedict
Uji benedict adalah uji yang digunakan
untuk membuktikan adanya gula pereduksi. Dengan prinsip berdasarkan reaksi Cu2+,
menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O yang berwarna
merah bata (jingga). Untuk menghindari pengendapan CuCO3 pada
larutan natrium karbonat (reagen benedict) maka ditambahkan asam sitrat.
Larutan tembaga yang dikatalis dapat direduksi oleh karbohidrat yang mengandung
gugus aldehid atau keton bebas.
Sehingga sukrosa yang tidak mengandung
aldehid atau keton bebas tidak dapat mereduksi larutan benedict. Dari hasil
percobaan ini didapat hasil yang positif untuk semua larutan uji yaitu untuk
glukosa 1% memberikan warna kecoklatan, maltose 1% memberikan warna jingga
begitupun dengan fruktosa 1% yang juga
memberikan warna jingga. Adapun tujuan dari pemanasan yang dilakukan untuk
mempercepat reaksi antara logam Cu dalam pereaksi benedict dengan sampel yang
diuji.
e.
Hidrolisis Selulosa
Hidrolisis selulosa ini
dilakukan dengan membasahi potongan kertas saring dengan air secara
perlahan-lahan. Kemudian ditambah dengan H2SO4
dipanaskan, didiamkan selama 1 jam kemudian ditetes dengan pereaksi benedict.
Dari hasil percobaan didapat hasil yang positif yaitu dengan menghasilkan warna
biru saa ditambah 10 tetes pereaksi benedict.
Tujuan dari proses pemanasan
disini adalah agar sukrosa yang memiliki molekul yang kompleks, dapat terurai
menjadi molekul monosakarida yang sederhana sehingga bisa diuji keberadaan
karbohidrat berupa monosakarida yang sederhana dengan pereaksi benedict. Selain
itu penambahan H2SO4 disini berperan sebagai katalisator
dalam reaksi ini sehingga reaksi dapat berlansung lebih cepat.
VI. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1.
Karbohidrat dapat diidentifikasi berdasarkan sifat-sifatnya
dengan menggunakan uji kualitatif yang meliputi uji iod, uji molish, uji
benedict dan uji seliwanof.
2.
Suatu karbohidrat dapat dibuktikan dengan terbentuknya cincin
berwarna ungu pada amilum, dekstin, sukrosa, maltose, fruktosa, galaktosa dan
arabinose.
3.
Polisakarida dibutikan dengan terbentuknya kompleks berwarna
spesifik, amilum berwarna biru dan dekstrin berwarna merah anggur sehingga
menandakan adanya polisakarid.
4.
Gula reduksi pada suatu karbohidrat dapat dibuktikan dengan terbentuknya
endapan yang berwarna merah bata. Pada maltose, galaktosa, fruktosa, glukosa
dan arabinose, hijau kekuningan pada dekstrin dan jingga pada maltose.
VII. Daftar Pustaka
Beran J.A. 2000. Chemistry
in the Labolatory 2 nd ed. Newyork: John Willey and Sons, Inc.
Clark, John M. 1964.Experimental
Biochemistry. San Franisco: WH Freeman and Company
Eaton, David C. 1980. The
World of Organic Chemistry . Newyork: Mc Graw Hill Book Company
Fessenden, Ralp J.1990.
Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Poedjiadi, Anna.1994. Dasar-
Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia Press
Winarno, F.G.1991. Kimia
Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Komentar
Posting Komentar